Sudah saatnya atau belum

Aku yang seharusnya berada dalam lemari kematian itu, sayangku. Tubuhku sudah menua dan tulang- tulangku keropos. Engkau selalu ada di setiap kelemahanku. Aku lebih mempercayai kehadiranmu daripada kokohnya tongkat besiku menopang tubuh ini yang tidak kuat berjalan sendiri. Setiap hari sakitku engkau yang rasa. Keluh kesahku engkau yang lebih dulu meredakannya. Aku berlari dan berjalan engkau mengiringiku dengan pujian tak henti-hentinya memberikanku semangat untuk hidup.

Hingga di tepian jalan keraguan aku selalu menatap wajah lembutmu penuh kekaguman. Aku adalah lelaki tua yang kini sendiri. Aku duduk termenung antara sedih atau pasrah melepas kepergianmu. Aku tidak lebih dari sebatang kayu yang mulai lapuk. Ada puluhan orang di halaman yang ikut berkabung bersamaku, tapi aku tidak mampu menatap mereka satu persatu. Aku butuh engkau untuk berdiri di sini, bersamaku mengalahkan semua ini. Tapi kau yang sudah tak berdaya terbaring damai di situ.
Aku tidak tahu sudah saatnya atau belum. Saat ini aku siap menghadapi segala sesuatunya, meskipun bibir ku tetap saja gemetar menyambut satu persatu orang menyalamiku memberiku kekuatan. Aku tidak tahu sudah saatnya atau belum, menanti setiap keheningan pagi di hari-hari setelah ini.

Aku bahkan tidak tahu sudah saatnya atau belum, aku meminta aku akan cepat mengakhiri semua ini. sampai aku akan meratapi sisa-sisa hari hidupku, hingga saatnya aku akan melenyapkan pandangan mataku ke langit putih di atas sana. Sang pemberi pengampunan menghapuskan dosa-dosaku di masa silam dan memberi tempat untuk bersamamu. Aku ingin bersamamu dan mengakhiri sengsaranya hari yang melemahkan tubuhku ini.
Tubuhku tak sekuat dulu lagi dan tak sehebat dulu untuk menaklukan rintangan-rintangan di saat hari- hari kita berdua terlalu indah dengan tantangan.

Pergilah ke surga dengan membisikkan sesuatu pada Sang pencipta untuk turut juga memanggilku. Aku tak tahu sudah saatnya atau belum bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal pada para kerabatku, para saudara serta anak-anak kita. Aku adalah orang tua dalam pengasingan jika tanpamu. Olehnya aku berkeluh.

Kekasihku, kapankah aku akan bersamamu kembali? Aku tidak tahu.

Senja yang terlalu lama

Di sudut kursi itu… Senyummu masih semanis dulu. Engkau duduk berhadapan denganku di seberang meja tamu kayu kokoh ini. Rasanya semanis tatapan lembutmu kala menyambutku pulang dari bepergian dulu. Perlahan rupamu menghilang seakan tertiup angin sepoi-sepoi, dan berlalu dari pandangan ini. Begitu juga lahan penuh tumbuhan berwarna hijau di luar yang dulunya adalah hamparan padi luas jauh sepanjang mata memandang sampai ke kaki gunung, kini telah berdiri beberapa bangunan yang rasa-rasanya hanya tidak sampai 10 tahun sudah ada di situ.

Waktu seharusnya berjalan begitu cepat kala anak-anak kita sudah banyak tidak di sini lagi menemaniku. Mereka kini datang dan pergi menghampiriku untuk bercerita, memandangi aku bersama figura-figura yang tergantung di dinding samping kamarku. Mereka mempertemukanku dengan cucu-cucuku yang juga terasa cepat tumbuh. Aku di sini menua dan sendiri. Rasanya sudah terlalu lama engkau pergi dan kini aku tidak bisa di sampingmu. Aku ingat engkau menungguku hingga larut malam di beranda depan saat aku bepergian. Sampai-sampai rasanya lututku kedinginan dan jemariku merindu untuk kau genggam di sore hingga malam hari.
Aku ingin kembali ke masa itu. Masa di mana kita menghabiskan waktu bersama. Mengisi kekosongan rasa yang aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya kita mencicipi getirnya hidup di kemarin hari yang kelabu itu. Aku kini merasa terlalu lama senja untuk berlalu. Ingin segera malam datang menghampiriku dan menyapa kelelahanku. Aku sudah cukup lama kedinginan setiap detik menghirup aroma kehadiranmu yang datang dan buru-buru pergi.
Engkaukah itu? atau sekedar bayanganmu yang memanjakan pandanganku saat kursi di hadapanku ini ada engkau tersenyum menatap kedalaman mataku yang sejenak basah dan meresonansikan senyuman juga pada bibirku. Aku menikmati penampakan dirimu ini.

Hingga nanti datang saatnya aku akan tidur dalam kehangatan malam hingga kembali aku terus bermimpi dan menjadi kenyataan. Aku ingin lekas-lekas bersama denganmu, kekasihku. Sepanjang hidupku yang sisa ini hanyalah penantian yang panjang untuk kembali bersamamu.

Mata ini terlalu lelah untuk tidak memejam. Sekian lama aku terisak dan sesak sekali nafasku menangisi hari kemarin yang sendu merindumu. Aku kini lelah untuk bertahan.
Senang kembali merasakan kembali aroma kehadiranmu. Tanpa indera sekalipun jiwaku dapat dipuaskan bersama-sama denganmu.
Kita punya sesuatu untuk dibanggakan. Oleh karena kasihmu dan kehangatan cintamu, aku di sini. Akupun tak akan lama-lama menyapamu, Kekasihku.

Saragan 2004