Mencumbumu
Aku ingin menyentuhmu di keheningan malam
Aku ingin membelaimu di dalam hasrat yang tak terbendung
Aku ingin mencumbumu di ruang tanpa batas,
di kedalaman samudera dan langit tinggi di atas sana
Aku ingin menghirup dalam dalam nafasmu berulang kali
hingga ku tak lagi bisa berpikir ke mana rasa ini akan terbawa buaian manis lembut setiap sentuhanmu yang bisa ku kecap.
Cinta Berbicara
Cinta berbicara lebih kuat dari hempasan gelombang samudra
Hati bercerita tentang apa yang ingin dilafalkan dalam hembusan jiwa
kedua-duanya bersetubuh dan seperti terjebak dalam pusaran angin puting beliung
di daratan pasir putih yang luas
Seolah-olah dunia adalah bagian dari sederet hasrat yang tak terkatakan
dua insan yang jatuh cinta tak akan terpisahkan
Dua hati menyatu untuk saling memberi
karena seorang saja tak mungkin berbagi
satu cinta berarti untuk selamanya
karena berdua cukup untuk saling menopang
Seribu hasrat yang bergemuruh terlalu kecil untuk menggambarkan cinta
Jutaan bunga terhampar indah memenuhi permukaan bumi tidak menemukan kesamaannya
Hati yang mencintai merasakan kekuatan oleh hadirnya.
Selama membaranya cinta tak terbendungi
berbicaralah sebagaimana hati telah teracuni olehnya
selagi kita mampu mencintai.
Life Music
I really like to enjoy these ups and downs of my life,
Those are like a music to me,
and you are the melody
Those are like a music to me,
and you are the melody
Puisi Broken Arrow
Aku telah bertarung untuk cinta,
berbaring di perapian, mengerang dalam luka.
Apakah aku layak dicintai?
Aku telah menaklukkan lautan, gunung dan ribuan musuh.
Tapi ini aku, hati ini, layakkah diperjuangkan?
Aku adalah ksatria yang menggenggam panah dan busur yang patah.
Hati ini telah melemah oleh keluh dan tanya.
Bertahun-tahun, dan mungkin beratus musim lagi
aku bak pahlawan yang jatuh tanpa sisa kejayaannya.
Kehilangan pengakuan dari cinta yang telah mati-matian direbutnya.
berbaring di perapian, mengerang dalam luka.
Apakah aku layak dicintai?
Aku telah menaklukkan lautan, gunung dan ribuan musuh.
Tapi ini aku, hati ini, layakkah diperjuangkan?
Aku adalah ksatria yang menggenggam panah dan busur yang patah.
Hati ini telah melemah oleh keluh dan tanya.
Bertahun-tahun, dan mungkin beratus musim lagi
aku bak pahlawan yang jatuh tanpa sisa kejayaannya.
Kehilangan pengakuan dari cinta yang telah mati-matian direbutnya.
I Miss Perth
Sepintas kerlap lampu malam hari di di kota ini mengingatkanku sesuatu yang masih terlalu sulit dilukiskan. Malam itu langit berselimut awan merah tak secerah yang seharusnya terjadi pada bulan-bulan akhir musim penghujan. Berlari-lari kecil di pinggiran jalan raya yang berangsur sepi, melewati satu persatu halte bus dan lampu kota di sepanjang trotoar basah, menyusurinya dengan rasa was-was, takut ketinggalan bus yang jam singgahnya pun tak kuketahui.
"jam berapa sekarang?"
Sembari melirik pergelangan tangan kiriku.
Casio G-shock pemberian kekasih menunjukkan pukul 8.50pm.
Hari pertama kerja di pusat kota mengharuskanku pulang lebih larut dari pekerja lain.
"menyebalkan...!"
Tidak bisa terbayang kalau mesti menunggu lebih dari setengah jam lagi untuk bus berikutnya.
Tak begitu serius, tapi mengapa jantung ini berdegup agak keras aku tidak tahu. Ini pertama kalinya aku berjalan sendirian di malam yang hampir larut di pusat kota.
Untungnya jacket jeans ini cukup ampuh menghalau dinginnya udara beserta tetesan-tetesan rintik hujan malam itu.
Sadar tak bisa mengendalikan keadaan, ritme langkah ku perlambat agar bisa menenangkan diri dan berpikir lagi.
Ku menarik nafas dalam,
menghembuskannya lagi,.. hufffhhh....
Langkahku bisa ku atur lagi tanpa harus tergopoh,
Petugas keamanan yang kebetulan berjalan beriringan di sampingku menyapa: "apa kabar?"
Jawabku: "baik, makasih, dan kau?"
"yah, lumayanlah, udaranya tak terlalu bersahabat"
Percakapan sejenak ini selanjutnya meredakan rasa minderku berbahasa asing.
Dan keramahannyalah jua yang menenangkanku, seolah-olah ingin menegaskan: "hey, kota ini tidak sejahat seperti yang kau bayangkan"
"Have a good night", kata orang itu selanjutnya sambil mengubah haluannya ke kiri.
Aku berjalan sendirian lagi.
Kembali beberapa butiran air menggaris lurus ke bawah dalam pandanganku di antara luminasi lampu-lampu neon penghias fasade deretan bangunan tinggi.
Tak ada malam seindah itu....
Tak lama kemudian klakson mikrolet dari sebelah kiri mengejutkanku.
Menyadari belakangan saat ku lihat tangan kiriku, jacket jeansku dan rintik hujan malam tidak mampu lagi membangkitkan ingatanku akan kenangan indah itu. aku harus melihat kembali apa yang di depanku.
Aku sudah berada di sini, kembali ke kota ini.
Tak peduli betapa riuhnya deru mesin puluhan kendaraan di jalan dekat pusat perbelanjaan, ini tetaplah kotaku tercinta.
ku berpikir sepertinya sejenak aku telah terbawa akan sebuah sepenggal memori tak terlupakan.
Perth, di situ akan selalu kutaruh ingatanku.
Lampu jalan dan papan iklan pertokoan di dekat sini mengelabui penggambaranku atas keadaan sebenarnya.
Hujanpun mencurahkan air tak terlalu deras malam ini. hanya setitik demi setitik air yang menetes.
Selubung penghalau hujan yang ku pegang tak lagi ku acungkan ke atas. Sengaja ku biarkan tak melindungi tubuh lagi dari rintik air dari atas sana.
Biar ku raih lagi kenangan itu.
Di sini ku merindu
Menarik nafas panjang sambil mata ini ku tutup sedetik.
Ku coba menggali keindahan itu kembali.
Perth, i miss you.
Ilalang Seikat
Aku dan desiran angin
beriringan menjemputmu
Di antara lembah dan hamparan ilalang sebukit
beriringan menjemputmu
Di antara lembah dan hamparan ilalang sebukit
Aku dan mereka sehati memujamu,
menyembah bisikmu yang jernih
menyembah bisikmu yang jernih
Demi seikat kuraih,
ku ingin menyirami hatimu yang sedih
ku ingin menyirami hatimu yang sedih
Saat kau tak ada lagi di sini,
Aku akan tetap merangkai seikat demi seikat.
Saat ku tak lagi di sana,
aku hanya akan merasuki lamunanmu tuk lewati kemarau sendu
Aku akan tetap merangkai seikat demi seikat.
Saat ku tak lagi di sana,
aku hanya akan merasuki lamunanmu tuk lewati kemarau sendu
Ingatlah aku karena seikat ini
Ketika kau temukan hamparan hijau lagi
Kekasih dan bunga hatiku hanyalah seikat ilalang,
yang mudah kau dapati, kau genggam atau mudah juga kau lepas
yang mudah kau dapati, kau genggam atau mudah juga kau lepas
Temukan aku ketika kau mencoba menggenggam bunga padang
di antara ilalang melambai tetertiup angin lembut
di antara ilalang melambai tetertiup angin lembut
Aku selalu ada dalam setiap ikatan
yang nanti akan kau rangkai.
Dalam setiap ilalang seikat.
yang nanti akan kau rangkai.
Dalam setiap ilalang seikat.
--------------
Temani Aku
Udara yang berkeliaran di depan hidungku,
yang menebarkan aroma pembangkit lamunan siangku,
temani aku di sini
Rintik hujan yang menggaris lurus di depan mataku,
yang tiap tetesannya menghanyutkan debu jalanan sore hari,
temani aku di sini
Semilir angin yang sempat terdengar reda menyapa telinga ini,
yang selalu meniupkan kedinginan malam,
temani aku di sini
yang menebarkan aroma pembangkit lamunan siangku,
temani aku di sini
Rintik hujan yang menggaris lurus di depan mataku,
yang tiap tetesannya menghanyutkan debu jalanan sore hari,
temani aku di sini
Semilir angin yang sempat terdengar reda menyapa telinga ini,
yang selalu meniupkan kedinginan malam,
temani aku di sini
Senandung Mimpi Pengelana
Hanya pekat malam yang turut mendengarkan,
bisikan pelan yang melukiskan kelelahan raga.
mengalun pelan di antara perapian kemah pengelana.
Manusia tua dengan gigi jarang.
mata melotot, pipi cekung tersedot ke dalam.
dagu tajam mencolok serta rambut terang yang tipis.
sambil setengah terkikik menceritakan masa lalu yang memalukan
bercerita tentang harapan-harapan yang terlalu magis.
Karena butuh peramal untuk menerawang,
dan perlu semburan air beras dukun kuno nan eksentrik untuk mendorongnya bermimpi.
baginya sudah terlambat untuk mengatur perbekalan
hari sudah senja baginya
Tepat disampingnya duduk seorang pengelana muda
Pria kate menengok bulan di atas
membayangkan uraian kakek tua yang menyempitkan harapan
untung saja kekerdilannya itu hanya sesaat
Hanya sesaat setelah dia menghela nafas dalam untuk sejenak
Mengais kata yang tepat untuk membela tekadnya
sambil menatap abu sisa kayu yang terbakar
beserta bara api yang megap-megap seperti bernafas,
berjuang mencari oksigen seperti ikan di permukaan kolam keruh.
Suara orang bijak yang terdengar lembut dari mulutnya;
"harapan itu seperti api yang masih kecil.
butuh usaha untuk menjaganya agar tetap menyala".
"jika impian kita pudar, kesalahannya ada pada tangan kita yang terlalu lamban".
"tangan kita harus bisa bergerak seirama mimpi kita,
dan bersenandung agar kita menikmatinya".
Keheningan selanjutnya merentangkan jarak duduk mereka
si tua termenung, si muda terlelap
dan tinggal menunggu datangnya pagi untuk kembali memacu mereka.
Si muda menggenggam tali kemudi kuda
Si tua masuk ke dalam kereta.
Sang kusir bersenandung, sang majikan tinggal berkeluh.
Entah Kapan
Bunga-bunga akan selalu bermekaran di musim semi.
Menebarkan aroma datangnya musim baru.
Menggelikan, karena homo sapiens ini hanya berkeliaran di kehangatan udara bawah kathulistiwa,
yang tidak pernah mengerti pilunya kebekuan malam musim dingin.
Seorang pelamun yang tidak punya nyali untuk bertarung.
Pelahap segala yang tidak akan bertahan lama saat ladang keronta.
yang selalu mengagumi hibernasi beruang kutub,
yang berhasrat untuk mengiringi kawanan rusa karibu berkelana,
tapi tidak bisa menyalakan api kemah sendiri.
Menggelikan, karena pahit getirnya petualangan hanya sebatas khayalan.
Hutan tropis yang mengelilingi persemayamannyapun tak terjamah sejengkalpun.
Hiruplah tanah pijakan kakimu sendiri dan menarilah di atasnya, perjaka.
Entah kapan kamu,.....kamu,.... entah kapan
Subscribe to:
Posts (Atom)