Mencari

Apa yang salah dari mencari?
Untuk sebuah tanya, untuk sebuah jawaban, manusia seharusnya mencari.
Sejak akal kita disemat, sejak pertama kali kita menalar.
Pengetahuan itu perlu dikejar, misteri perlu dipecahkan.
Menggali itu melelahkan. Tanpa ujung bahkan.
Menemukan jawaban itu sangat melegakan. Meredakan penasaran
Dari belia sampai renta, sudah sampai di mana kita mencari?
Steviano

Sudah saatnya atau belum

Aku yang seharusnya berada dalam lemari kematian itu, sayangku. Tubuhku sudah menua dan tulang- tulangku keropos. Engkau selalu ada di setiap kelemahanku. Aku lebih mempercayai kehadiranmu daripada kokohnya tongkat besiku menopang tubuh ini yang tidak kuat berjalan sendiri. Setiap hari sakitku engkau yang rasa. Keluh kesahku engkau yang lebih dulu meredakannya. Aku berlari dan berjalan engkau mengiringiku dengan pujian tak henti-hentinya memberikanku semangat untuk hidup.

Hingga di tepian jalan keraguan aku selalu menatap wajah lembutmu penuh kekaguman. Aku adalah lelaki tua yang kini sendiri. Aku duduk termenung antara sedih atau pasrah melepas kepergianmu. Aku tidak lebih dari sebatang kayu yang mulai lapuk. Ada puluhan orang di halaman yang ikut berkabung bersamaku, tapi aku tidak mampu menatap mereka satu persatu. Aku butuh engkau untuk berdiri di sini, bersamaku mengalahkan semua ini. Tapi kau yang sudah tak berdaya terbaring damai di situ.
Aku tidak tahu sudah saatnya atau belum. Saat ini aku siap menghadapi segala sesuatunya, meskipun bibir ku tetap saja gemetar menyambut satu persatu orang menyalamiku memberiku kekuatan. Aku tidak tahu sudah saatnya atau belum, menanti setiap keheningan pagi di hari-hari setelah ini.

Aku bahkan tidak tahu sudah saatnya atau belum, aku meminta aku akan cepat mengakhiri semua ini. sampai aku akan meratapi sisa-sisa hari hidupku, hingga saatnya aku akan melenyapkan pandangan mataku ke langit putih di atas sana. Sang pemberi pengampunan menghapuskan dosa-dosaku di masa silam dan memberi tempat untuk bersamamu. Aku ingin bersamamu dan mengakhiri sengsaranya hari yang melemahkan tubuhku ini.
Tubuhku tak sekuat dulu lagi dan tak sehebat dulu untuk menaklukan rintangan-rintangan di saat hari- hari kita berdua terlalu indah dengan tantangan.

Pergilah ke surga dengan membisikkan sesuatu pada Sang pencipta untuk turut juga memanggilku. Aku tak tahu sudah saatnya atau belum bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal pada para kerabatku, para saudara serta anak-anak kita. Aku adalah orang tua dalam pengasingan jika tanpamu. Olehnya aku berkeluh.

Kekasihku, kapankah aku akan bersamamu kembali? Aku tidak tahu.

Senja yang terlalu lama

Di sudut kursi itu… Senyummu masih semanis dulu. Engkau duduk berhadapan denganku di seberang meja tamu kayu kokoh ini. Rasanya semanis tatapan lembutmu kala menyambutku pulang dari bepergian dulu. Perlahan rupamu menghilang seakan tertiup angin sepoi-sepoi, dan berlalu dari pandangan ini. Begitu juga lahan penuh tumbuhan berwarna hijau di luar yang dulunya adalah hamparan padi luas jauh sepanjang mata memandang sampai ke kaki gunung, kini telah berdiri beberapa bangunan yang rasa-rasanya hanya tidak sampai 10 tahun sudah ada di situ.

Waktu seharusnya berjalan begitu cepat kala anak-anak kita sudah banyak tidak di sini lagi menemaniku. Mereka kini datang dan pergi menghampiriku untuk bercerita, memandangi aku bersama figura-figura yang tergantung di dinding samping kamarku. Mereka mempertemukanku dengan cucu-cucuku yang juga terasa cepat tumbuh. Aku di sini menua dan sendiri. Rasanya sudah terlalu lama engkau pergi dan kini aku tidak bisa di sampingmu. Aku ingat engkau menungguku hingga larut malam di beranda depan saat aku bepergian. Sampai-sampai rasanya lututku kedinginan dan jemariku merindu untuk kau genggam di sore hingga malam hari.
Aku ingin kembali ke masa itu. Masa di mana kita menghabiskan waktu bersama. Mengisi kekosongan rasa yang aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya kita mencicipi getirnya hidup di kemarin hari yang kelabu itu. Aku kini merasa terlalu lama senja untuk berlalu. Ingin segera malam datang menghampiriku dan menyapa kelelahanku. Aku sudah cukup lama kedinginan setiap detik menghirup aroma kehadiranmu yang datang dan buru-buru pergi.
Engkaukah itu? atau sekedar bayanganmu yang memanjakan pandanganku saat kursi di hadapanku ini ada engkau tersenyum menatap kedalaman mataku yang sejenak basah dan meresonansikan senyuman juga pada bibirku. Aku menikmati penampakan dirimu ini.

Hingga nanti datang saatnya aku akan tidur dalam kehangatan malam hingga kembali aku terus bermimpi dan menjadi kenyataan. Aku ingin lekas-lekas bersama denganmu, kekasihku. Sepanjang hidupku yang sisa ini hanyalah penantian yang panjang untuk kembali bersamamu.

Mata ini terlalu lelah untuk tidak memejam. Sekian lama aku terisak dan sesak sekali nafasku menangisi hari kemarin yang sendu merindumu. Aku kini lelah untuk bertahan.
Senang kembali merasakan kembali aroma kehadiranmu. Tanpa indera sekalipun jiwaku dapat dipuaskan bersama-sama denganmu.
Kita punya sesuatu untuk dibanggakan. Oleh karena kasihmu dan kehangatan cintamu, aku di sini. Akupun tak akan lama-lama menyapamu, Kekasihku.

Saragan 2004

Mati Muda

Kamu, para sahabat yang mati muda
Kamu tidak pergi sia-sia
Kamu baru saja membangunkan kami yang tersisa

Sesaat kalian pergi, kami terjaga
Saat kami mawas diri,
kalian menyertai kami berjalan dari kejauhan
membuat kami menantikan senja

Orang-orang yang tidak menantikan kematian,
hanyalah mereka-mereka, para budak kehidupan
Yang terus menerus berlari
dikejar oleh malam, dikejar oleh pagi
dikejar nafsu mereka sendiri
yang bertarung untuk menjadi tontonan
tontonan keakuan mereka sendiri

Kamu, kami semua
akan berpelukan di keheningan antah berantah
Kamu tidak pergi sia-sia

Cari Aku

Cari jasadku di kedalaman Bialowieza Puszcza
diantara humus menebal seharusnya dia bersemayam.
Temui tubuhku di kedalaman Samudra Hindia Selatan
dibawah taburan plankton yang menjadi bunga kabungnya.
atau jika tak layak berada diantaranya,
biarlah dia bersemayam di atas perapian yang menyala-nyala

Tetapi hatiku, temui dalam setiap kata yang kutulis.
di setiap untaian puisi yang kunyanyikan.

We Never Met



We were in the same world
We never met
We lived under the same light of sunshine
We never met
We lived the similar life,
We walked in the same path, daily
Still we never met

Years went by,
Then we meet in a shadow of the luck
We see each other
As dark going blind

In your eyes I found something
A thing called love
As I saw regret comes too early
To realize it so deeply
I say I love thee
And I think I’m gonna cry

So please, please baby
If life still too strict
Don’t hold me like you say a lie
Or leave me when say good bye
I am truly gonna be fine
I just love you

Pencarian Semata

Ku temukan setapak
Ke pinggiran gemuruh ku menepi
Aku menangis
Kisah-kisah yang pelit
Kisah kisah yang damai

Ku ambil segenggam keakuan
Kisah-kisah yang salah
Kisah kisah yang indah
Ku buang segenggam keakuan
Ku dapati diantara duri
Mawar segar tak bertuan

Ku dapati aku berlari
Di tengah belitan bayang hutan renta
Aku mengais
seperti layaknya semua mencari
Kisah-kisah sempurna
Kisah-kisah sejati

Hari Ketujuh Bulan Tujuh

Rasanya tak ada pagi sedingin hari ini, dimana penantian telah terjawab sudah dengan kepedihan. Kabar yang datang di pagi buta, sungguh telah menikam hati ini teramat dalam, sedalam ketakutan yang kupendam sejak berapa minggu yang lalu. Orang-orang sekitar mulai satu-persatu berdatangan menguatkan dan mencoba menghibur, tapi tak satupun yang bisa menghangatkan kembali jiwa ini. Saat itu pagi-pagi benar, saat palem-palem kesayanganku masih gelap belum menghijau menanti terpaan sinar mentari untuk mewarnainya. Tanpa banyak kata, simpati ku lihat telah membawa orang-orang berdatangan ke sini sambil membersihkan isi perabot ruang tamu, membentangkan kain putih, memindahkan tempat pembaringan,.. aku bahkan benci membayangkan ini... di sini akan menjadi tempat perkabungan.
Baju hitam ini kupakai untuk menunjukkan kepekatan hatiku. dimana di situ juga terletak semua ketaktahuanku akan misteri hidup. Lelaki yang bertahun-tahun telah mendampingiku harus pergi setelah cukup lama mengerang kesakitan. Hancur, Tuhan, hancur,.. di manakah akan ku letakkan pengharapanku? Haruskah ini terjadi saat bahtera yang baru saja terombang-ambing kembali terkendali?
Terbayang sesosok lelaki tegap tersenyum dan tiba-tiba meringis di hadapanku. Dapatkah ku tahan rintihan ini?


Putaran jarum jam panjang sudah melewati angka 12, menandakan aku sudah terlalu lama termenung di sini. Jenazah yang ku tunggui belum juga datang. Gelap pun tak lama-lama menetap, pemandangan sekitar rumah perlahan menampakkan wujud barunya, semakin ramai orang berkerumun, semakin memperbesar rasa ingin tahu bagaimana keadaan suamiku di sana. Untuk terakhir kalinya harus ku lihat dia dalam keadaan berpakaian gagah. Aku tahu dia sudah tak di situ. Dia sudah pergi ke atas sana meninggalkan jasadnya. Tetapi tak ada yang bisa menjelaskan mengapa hati ini ingin cepat-cepat bertemu dengannya, walaupun hanya sekedar memeluk erat tubuhnya.


Perlahan dari kejauhan kudengar suara yang seharusnya mengingatkanku bahwa sudah tiba saatnya. Jantung ini berdetak kencang, pikiranku menjadi tak menentu, tidak tahu mengapa suara sirene itu terdengar begitu menyayat hati, ya, sangat menyayat hati ini yang sudah teriris-iris sebelumnya. Oh Tuhan, sakit sekali. Suara yang memecah keheningan pagi itu semakin mendekati pekarangan rumahku.
Tepat di depan rumahku mobil putih itu berhenti. Sekelompok orang cepat mendatangi pintu belakangnya, membuka dan tidak lama bersama itu, sosok yang kunantikan itu kulihat lagi. Kali ini kulihat rupa dia yang sudah mengenakan jas biru gelap dan rapih namun dengan tak berdaya datang dengan iringan orang-orang yang mengusungnya. Tak tahan hati ini berdiam, tak tega jiwa ini membayangkan hal-hal yang indah lagi. Lelaki itu sudah di depan sana, datang menghampiriku. Hati ini menangis, hati ini merintih pedih, pengendara ragaku berteriak, tak tahan rasanya melihat dia yang selalu menggandengku kini sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Seluruh pemandanganku hanya dipenuhi dia dalam gerakan lambat yang perlahan memasuki pintu rumahku. Tak ada warna lagi yang kulihat, semuanya berubah, tiba-tiba sekelilingku memudarkan warnanya. yang tersisa hanyalah hitam dan putih. Ku lihat wajahnya bersama kelabunya hati ini.
Hari ini tlah mengawali tangisan sakitku.
Hari ini akan terus ku ingat.
Mungkin untuk seterusnya aku akan menangis. Tak akan berhenti. Aku terus terisak seakan isakan ini mau mencekik dan membunuhku. Aku mau menunggu andai saja waktu itu tiba secepatnya. Aku akan mengingat hari-hari dimana aku menangisinya kekasihku selamanya.


Hari ini hari ke tujuh bulan ketujuh, dia telah berpulang.

Kita

Kita yang meminjam nafas dari Sang Khalik,
yang entah belia ataupun senja,
semua tinggal menunggu nama masing-masing kita disebut.
Entah hari ini atau besok.

Dan ketika saat itu datang,
marilah kita menarik nafas sedalam-dalamnya
dan menikmati hirupan terakhir kita,
sehingga hembusan kita nantinya akan menebarkan aroma kehidupan
yang terlepas ke udara,


Memberikan kedamaian bagi yang terpenjara daging,
membagikan harapan untuk yang gigih,
dan menghembuskan semangat bagi yang tangguh.

Mencumbumu


Aku ingin menyentuhmu di keheningan malam
Aku ingin membelaimu di dalam hasrat yang tak terbendung
Aku ingin mencumbumu di ruang tanpa batas,
di kedalaman samudera dan langit tinggi di atas sana
Aku ingin menghirup dalam dalam nafasmu berulang kali
hingga ku tak lagi bisa berpikir ke mana rasa ini akan terbawa buaian manis lembut setiap sentuhanmu yang bisa ku kecap.