Rasanya tak ada pagi sedingin hari ini, dimana penantian telah terjawab sudah dengan kepedihan. Kabar yang datang di pagi buta, sungguh telah menikam hati ini teramat dalam, sedalam ketakutan yang kupendam sejak berapa minggu yang lalu. Orang-orang sekitar mulai satu-persatu berdatangan menguatkan dan mencoba menghibur, tapi tak satupun yang bisa menghangatkan kembali jiwa ini. Saat itu pagi-pagi benar, saat palem-palem kesayanganku masih gelap belum menghijau menanti terpaan sinar mentari untuk mewarnainya. Tanpa banyak kata, simpati ku lihat telah membawa orang-orang berdatangan ke sini sambil membersihkan isi perabot ruang tamu, membentangkan kain putih, memindahkan tempat pembaringan,.. aku bahkan benci membayangkan ini... di sini akan menjadi tempat perkabungan.
Baju hitam ini kupakai untuk menunjukkan kepekatan hatiku. dimana di situ juga terletak semua ketaktahuanku akan misteri hidup. Lelaki yang bertahun-tahun telah mendampingiku harus pergi setelah cukup lama mengerang kesakitan. Hancur, Tuhan, hancur,.. di manakah akan ku letakkan pengharapanku? Haruskah ini terjadi saat bahtera yang baru saja terombang-ambing kembali terkendali?
Terbayang sesosok lelaki tegap tersenyum dan tiba-tiba meringis di hadapanku. Dapatkah ku tahan rintihan ini?
Putaran jarum jam panjang sudah melewati angka 12, menandakan aku sudah terlalu lama termenung di sini. Jenazah yang ku tunggui belum juga datang. Gelap pun tak lama-lama menetap, pemandangan sekitar rumah perlahan menampakkan wujud barunya, semakin ramai orang berkerumun, semakin memperbesar rasa ingin tahu bagaimana keadaan suamiku di sana. Untuk terakhir kalinya harus ku lihat dia dalam keadaan berpakaian gagah. Aku tahu dia sudah tak di situ. Dia sudah pergi ke atas sana meninggalkan jasadnya. Tetapi tak ada yang bisa menjelaskan mengapa hati ini ingin cepat-cepat bertemu dengannya, walaupun hanya sekedar memeluk erat tubuhnya.
Perlahan dari kejauhan kudengar suara yang seharusnya mengingatkanku bahwa sudah tiba saatnya. Jantung ini berdetak kencang, pikiranku menjadi tak menentu, tidak tahu mengapa suara sirene itu terdengar begitu menyayat hati, ya, sangat menyayat hati ini yang sudah teriris-iris sebelumnya. Oh Tuhan, sakit sekali. Suara yang memecah keheningan pagi itu semakin mendekati pekarangan rumahku.
Tepat di depan rumahku mobil putih itu berhenti. Sekelompok orang cepat mendatangi pintu belakangnya, membuka dan tidak lama bersama itu, sosok yang kunantikan itu kulihat lagi. Kali ini kulihat rupa dia yang sudah mengenakan jas biru gelap dan rapih namun dengan tak berdaya datang dengan iringan orang-orang yang mengusungnya. Tak tahan hati ini berdiam, tak tega jiwa ini membayangkan hal-hal yang indah lagi. Lelaki itu sudah di depan sana, datang menghampiriku. Hati ini menangis, hati ini merintih pedih, pengendara ragaku berteriak, tak tahan rasanya melihat dia yang selalu menggandengku kini sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Seluruh pemandanganku hanya dipenuhi dia dalam gerakan lambat yang perlahan memasuki pintu rumahku. Tak ada warna lagi yang kulihat, semuanya berubah, tiba-tiba sekelilingku memudarkan warnanya. yang tersisa hanyalah hitam dan putih. Ku lihat wajahnya bersama kelabunya hati ini.
Hari ini tlah mengawali tangisan sakitku.
Hari ini akan terus ku ingat.
Mungkin untuk seterusnya aku akan menangis. Tak akan berhenti. Aku terus terisak seakan isakan ini mau mencekik dan membunuhku. Aku mau menunggu andai saja waktu itu tiba secepatnya. Aku akan mengingat hari-hari dimana aku menangisinya kekasihku selamanya.
Hari ini hari ke tujuh bulan ketujuh, dia telah berpulang.