Senja yang terlalu lama

Di sudut kursi itu… Senyummu masih semanis dulu. Engkau duduk berhadapan denganku di seberang meja tamu kayu kokoh ini. Rasanya semanis tatapan lembutmu kala menyambutku pulang dari bepergian dulu. Perlahan rupamu menghilang seakan tertiup angin sepoi-sepoi, dan berlalu dari pandangan ini. Begitu juga lahan penuh tumbuhan berwarna hijau di luar yang dulunya adalah hamparan padi luas jauh sepanjang mata memandang sampai ke kaki gunung, kini telah berdiri beberapa bangunan yang rasa-rasanya hanya tidak sampai 10 tahun sudah ada di situ.

Waktu seharusnya berjalan begitu cepat kala anak-anak kita sudah banyak tidak di sini lagi menemaniku. Mereka kini datang dan pergi menghampiriku untuk bercerita, memandangi aku bersama figura-figura yang tergantung di dinding samping kamarku. Mereka mempertemukanku dengan cucu-cucuku yang juga terasa cepat tumbuh. Aku di sini menua dan sendiri. Rasanya sudah terlalu lama engkau pergi dan kini aku tidak bisa di sampingmu. Aku ingat engkau menungguku hingga larut malam di beranda depan saat aku bepergian. Sampai-sampai rasanya lututku kedinginan dan jemariku merindu untuk kau genggam di sore hingga malam hari.
Aku ingin kembali ke masa itu. Masa di mana kita menghabiskan waktu bersama. Mengisi kekosongan rasa yang aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya kita mencicipi getirnya hidup di kemarin hari yang kelabu itu. Aku kini merasa terlalu lama senja untuk berlalu. Ingin segera malam datang menghampiriku dan menyapa kelelahanku. Aku sudah cukup lama kedinginan setiap detik menghirup aroma kehadiranmu yang datang dan buru-buru pergi.
Engkaukah itu? atau sekedar bayanganmu yang memanjakan pandanganku saat kursi di hadapanku ini ada engkau tersenyum menatap kedalaman mataku yang sejenak basah dan meresonansikan senyuman juga pada bibirku. Aku menikmati penampakan dirimu ini.

Hingga nanti datang saatnya aku akan tidur dalam kehangatan malam hingga kembali aku terus bermimpi dan menjadi kenyataan. Aku ingin lekas-lekas bersama denganmu, kekasihku. Sepanjang hidupku yang sisa ini hanyalah penantian yang panjang untuk kembali bersamamu.

Mata ini terlalu lelah untuk tidak memejam. Sekian lama aku terisak dan sesak sekali nafasku menangisi hari kemarin yang sendu merindumu. Aku kini lelah untuk bertahan.
Senang kembali merasakan kembali aroma kehadiranmu. Tanpa indera sekalipun jiwaku dapat dipuaskan bersama-sama denganmu.
Kita punya sesuatu untuk dibanggakan. Oleh karena kasihmu dan kehangatan cintamu, aku di sini. Akupun tak akan lama-lama menyapamu, Kekasihku.

Saragan 2004