Senandung Mimpi Pengelana

Hanya pekat malam yang turut mendengarkan,
bisikan pelan yang melukiskan kelelahan raga.
mengalun pelan di antara perapian kemah pengelana.
Manusia tua dengan gigi jarang.
mata melotot, pipi cekung tersedot ke dalam.
dagu tajam mencolok serta rambut terang yang tipis.
sambil setengah terkikik menceritakan masa lalu yang memalukan 
bercerita tentang harapan-harapan yang terlalu magis.
Karena butuh peramal untuk menerawang,
dan perlu semburan air beras dukun kuno nan eksentrik untuk mendorongnya bermimpi.
baginya sudah terlambat untuk mengatur perbekalan
hari sudah senja baginya

Tepat disampingnya duduk seorang pengelana muda
Pria kate menengok bulan di atas
membayangkan uraian kakek tua yang menyempitkan harapan
untung saja kekerdilannya itu hanya sesaat
Hanya sesaat setelah dia menghela nafas dalam untuk sejenak
Mengais kata yang tepat untuk membela tekadnya

sambil menatap abu sisa kayu yang terbakar
beserta bara api yang megap-megap seperti bernafas,
berjuang mencari oksigen seperti ikan di permukaan kolam keruh.
Suara orang bijak yang terdengar lembut dari mulutnya;
"harapan itu seperti api yang masih kecil.
butuh usaha untuk menjaganya agar tetap menyala".
"jika impian kita pudar, kesalahannya ada pada tangan kita yang terlalu lamban".
"tangan kita harus bisa bergerak seirama mimpi kita,
dan bersenandung agar kita menikmatinya".

Keheningan selanjutnya merentangkan jarak duduk mereka
si tua termenung, si muda terlelap
dan tinggal menunggu datangnya pagi untuk kembali memacu mereka.
Si muda menggenggam tali kemudi kuda
Si tua masuk ke dalam kereta.
Sang kusir bersenandung, sang majikan tinggal berkeluh.