I Miss Perth
Sepintas kerlap lampu malam hari di di kota ini mengingatkanku sesuatu yang masih terlalu sulit dilukiskan. Malam itu langit berselimut awan merah tak secerah yang seharusnya terjadi pada bulan-bulan akhir musim penghujan. Berlari-lari kecil di pinggiran jalan raya yang berangsur sepi, melewati satu persatu halte bus dan lampu kota di sepanjang trotoar basah, menyusurinya dengan rasa was-was, takut ketinggalan bus yang jam singgahnya pun tak kuketahui.
"jam berapa sekarang?"
Sembari melirik pergelangan tangan kiriku.
Casio G-shock pemberian kekasih menunjukkan pukul 8.50pm.
Hari pertama kerja di pusat kota mengharuskanku pulang lebih larut dari pekerja lain.
"menyebalkan...!"
Tidak bisa terbayang kalau mesti menunggu lebih dari setengah jam lagi untuk bus berikutnya.
Tak begitu serius, tapi mengapa jantung ini berdegup agak keras aku tidak tahu. Ini pertama kalinya aku berjalan sendirian di malam yang hampir larut di pusat kota.
Untungnya jacket jeans ini cukup ampuh menghalau dinginnya udara beserta tetesan-tetesan rintik hujan malam itu.
Sadar tak bisa mengendalikan keadaan, ritme langkah ku perlambat agar bisa menenangkan diri dan berpikir lagi.
Ku menarik nafas dalam,
menghembuskannya lagi,.. hufffhhh....
Langkahku bisa ku atur lagi tanpa harus tergopoh,
Petugas keamanan yang kebetulan berjalan beriringan di sampingku menyapa: "apa kabar?"
Jawabku: "baik, makasih, dan kau?"
"yah, lumayanlah, udaranya tak terlalu bersahabat"
Percakapan sejenak ini selanjutnya meredakan rasa minderku berbahasa asing.
Dan keramahannyalah jua yang menenangkanku, seolah-olah ingin menegaskan: "hey, kota ini tidak sejahat seperti yang kau bayangkan"
"Have a good night", kata orang itu selanjutnya sambil mengubah haluannya ke kiri.
Aku berjalan sendirian lagi.
Kembali beberapa butiran air menggaris lurus ke bawah dalam pandanganku di antara luminasi lampu-lampu neon penghias fasade deretan bangunan tinggi.
Tak ada malam seindah itu....
Tak lama kemudian klakson mikrolet dari sebelah kiri mengejutkanku.
Menyadari belakangan saat ku lihat tangan kiriku, jacket jeansku dan rintik hujan malam tidak mampu lagi membangkitkan ingatanku akan kenangan indah itu. aku harus melihat kembali apa yang di depanku.
Aku sudah berada di sini, kembali ke kota ini.
Tak peduli betapa riuhnya deru mesin puluhan kendaraan di jalan dekat pusat perbelanjaan, ini tetaplah kotaku tercinta.
ku berpikir sepertinya sejenak aku telah terbawa akan sebuah sepenggal memori tak terlupakan.
Perth, di situ akan selalu kutaruh ingatanku.
Lampu jalan dan papan iklan pertokoan di dekat sini mengelabui penggambaranku atas keadaan sebenarnya.
Hujanpun mencurahkan air tak terlalu deras malam ini. hanya setitik demi setitik air yang menetes.
Selubung penghalau hujan yang ku pegang tak lagi ku acungkan ke atas. Sengaja ku biarkan tak melindungi tubuh lagi dari rintik air dari atas sana.
Biar ku raih lagi kenangan itu.
Di sini ku merindu
Menarik nafas panjang sambil mata ini ku tutup sedetik.
Ku coba menggali keindahan itu kembali.
Perth, i miss you.